WAYANG.... Budaya Bang Mulai Terlupakan..???





Wayang berasal dari kata wayangan yaitu sumber tokoh dan ide cerita yang hilang dan teringat kembali dengan kurang jelas, pada awalnya, inti wayang adalah bagian dari kegiatan religi animisme
menyembah 'hyang'(tuhan), dilakukan antara lain di saat-saat panenan atau taneman dalam bentuk upacara ruwatan, tingkeban, ataupun 'merti desa'(bersih desa/rasulan), agar panen berhasil atau pun agar desa terhindar dari segala mala, namun sekarang wayang dapat ditanggap untuk setiap saat dan semua orang( yang bisa membayar ) di tahun (898 - 910) M wayang sudah menjadi wayang purwa, namun tetap masih ditunjukan untuk menyembah para sanghyang seperti yang tertulis dalam prasasti balitung sigaligi mawayang buat hyang, macarita bhima ya kumara (kurang lebih terjemahanya begini : menggelar wayang untuk para hyang menceritakan tentang bima sang kumara) di jaman mataram hindu ini, ramayana berasal dari dan india berhasil dituliskan dalam bahasa jawa kuna (kawi) pada masa raja darmawangsa, 996 - 1042 M mahabharata yang berbahasa sansekerta delapan belas parwa, dirakit menjadi sembilan parwa bahasa jawa kuna, lalu arjuna wiwaha berhasil disusun oleh mpu kanwa di masa raja erlangga, sampai di jaman kerajaan kediri dan raja jayabaya, mpu sedah mulai menyusun serat bharatayuda, yang lalu diselesaikan oleh mpu panuluh, tak puas dengan itu saja, mpu panuluh lalu menyusun serat hariwangsa, dan kemudian serat gatutkacasraya menurut serat centhini, sang jayabaya lah yang memerintahkan menuliskan ke lontar (daun lontar, disusun seperti kerai, disatukan dengan tali) di jaman awal majapahit wayang digambar di kertas jawi (saya juga tidak tahu, apa arti 'kertas jawi' ini ) dan sudah dilengkapi dengan berbagai hiasan pakaian
masa masa yang bisa kita sebut sebagai globalisasi tahap satu ke tanah jawa, kepercayaan animisme mulai digeser oleh pengaruh agama hindu, yang membuat 'naik'-nya pamor tokoh 'dewa', yang kini 'ditempatkan' berada di atas 'hyang' abad duabelas sampai abad limabelas, adalah masa 'sekularisasi' wayang tahap satu dengan mulai disusunnya berbagai mithos, yang mengagungkan para raja sebagai keturunan langsung para dewa abad limabelas adalah dimulainya globalisasi jawa tahap dua, kini pengaruh budaya islam yang mulai meresap tanpa terasa, dan pada awal abad keenambelas berdirilah kerajaan demak ( 1500 - 1550 M ).

Ternyata banyak kaidah wayang yang berbenturan dengan ajaran islam, maka raden patah memerintahkan mengubah beberapa aturan wayang, yang segera dilaksanakan oleh para wali secara gotongroyong, wayang beber karya prabangkara (jaman majapahit) segera direka-ulang, dibuat dari kulit kerbau yang ditipiskan dan dikeringkan, di wilayah kerajaan demak masa itu, sapi tidak boleh dipotong, untuk menghormati, penganut hindu yang masih banyak, agar tidak terjadi perselisihan antar umat, gambar dibuat menyamping, tangan dipanjangkan, digapit dengan penguat tanduk kerbau, dan disimping, sunan bonang menyusun, struktur dramatika-nya, sunan prawata menambahkan tokoh raksasa dan kera, dan, juga menambahkan beberapa skenario cerita raden patah menambahkan tokoh gajah dan wayang prampogan, sunan kalijaga mengubah sarana pertunjukan yang awalnya dari kayu, kini terdiri dari batang pisang, blencong, kotak wayang, dan gunungan, sunan kudus kebagian tugas men-dalang 'suluk' masih tetap dipertahankan, dan ditambah dengan greget saut dan adha-adha dan dijadikan alat untuk menyebarkan agama islam (dakwah) dimasa itu pada masa sultan trenggana, bentuk wayang semakin dipermanis lagi, mata, mulut, dan telinga mulai ditatahkan (tadinya hanya digambarkan di kulit kerbau tipis) susuhunan ratu tunggal, pengganti sultan trenggana, tidak mau kalah, dia ciptakan model mata liyepan dan thelengan (joan crawford pun mestinya bayar royalti pada dia, nih he.... selain wayang purwa sang ratu juga memunculkan wayang gedhog, yang hanya, digelar di lingkungan dalam keraton saja.
sementara untuk konsumsi rakyat jelata, sunan bonang menyusun wayang damarwulan jaman kerajaan pajang memberikan ciri khas baru , wayang gedhog dan wayang kulit mulai ditatah tiga dimensi (mulai ada lekukan pada tatahan) bentuk wayang semakin ditata, raja dan ratu memakai mahkota/topong, rambut para satria mulai ditata, memakai praba, dan juga mulai ditambahkan celana dan kain di jaman ini pula lah sunan kudus, memperkenalkan wayang golek dari kayu, sedang sunan kalijaga menyusun wayang topeng dari kisah-kisah wayang gedog, dengan demikian wayang gedog pun sudah mulai memasyarakat di luar keraton di masa mataram islam wayang semakin berkembang, panembahan senapati menambahkan berbagai tokoh burung dan hewan hutan, dan rambut wayang ditatah semakin halus sultan agung anyakrawati menambahkan unsur gerak pada wayang kulit, pundak, siku, dan pergelangan wayang mulai diberi sendi, posisi tangan berbentuk 'nyempurit', dengan adanya inovasi ini muncul pula tokoh baru, cakil, tokoh raksasa bertubuh ramping yang sangat gesit dan cekatan, sultan agung anyakrakusuma, pengganti beliau, ikut menyumbang, bentuk mata semakin diperbanyak, dan pada beberapa tokoh dibuat beberapa wanda (bentuk), setelah semua selesai dilaksanakan, diciptakan seorang tokoh baru, raksasa berambut merah bertaji seperti kuku, yang akhirnya disebut 'buta prapatan' atau 'buta rambutgeni' (catatan hms : mungkinkah ini ada kaitannya dengan berdirinya voc di tahun 1602 ? ).
berbagai inovasi dan reka-ulang wayang masih terus berlangsung, dari jaman mataram islam sampai jaman sekarang bahkan dengan munculnya ide-ide 'nyeleneh' para dhalang, berbagai peralatan elektronis mulai ikut berperan, dalam tata panggung maupun perangkat gamelan, begitu pula dalam hal tata pakaian yang dikenakan , oleh ki dhalang, pesinden, maupun para juru karawitan, bahkan beberapa waktu yang lalu saya melihat ditelevisi muncul wayang versi modern, dengan menghadirkan 2 dhalang sekaligus(biasanya 1) tokoh gareng yang di perankan orang asli, sinden dua jenis(sinden wayang dan sinden campursari), dan menampilkan gitar listrik, organt, drum untuk mengiringi musiknya, dalam hal skenario-nya pun senantiasa ada pergeseran,sehingga kini sudah semakin sulit dihakimi , mana yang cerita "original" dan mana "bajakannya" namun siapa yang berhak menghakimi?? walau demikian, wayang pada dasarnya masih tetap seperti tujuan utama para wali yang dijadikan tontonan sekaligus tuntunan, garis besar struktur dramatika-nya agaknya relatif tetap, pathet nem, pathet sanga, lalu pathet manyura, relatif standar dan tetap seperti juga mengenai inti filsafatnya sendiri : wayang adalah perlambang kehidupan kita sehari-hari, banyak yang bisa dipelajari dan dirasakan diri kita pribadi.
wayang yang sekarang mulai dilupakan oleh "anak muda modern" tertinggalkan dengan seiring banyak nya gedung bioskop yang bertaraf internasional, keprihatinan sangat mendalam mengingat wayang adalah budaya asli, yang jangan sampai diklaim oleh negara tetangga maupun negara benua seberang, wayang perlu dikembangkan, dibudayakan dan diperkenalkan kepada kawula muda generasi selanjutnya, sebagian besar wayang hanya dikenal oleh orang muda dan sebagian orang yang sudah berumur saja, karena jujur saya akui, saya sendiri pun tidak mengerti begitu banyak tentang wayang, yang notabene kakek buyut saya adalah seorang dalang, dan ibu tercinta saya adalah seorang sinden wayang, namun saya tidak ingin termakan jaman, saya ingin mengenal kembali budaya yang mulai kurang dilestarikan dan selalu didengarkan bapak saya diradio setiap malam minggu itu. mari kawula muda.... 
lestarikan budaya yang mulai terlupa, kita luangkan waktu untuk mengerti dan mengetahui apa sebenarnya budaya yang sebenarnya, mendewasakan diri untuk membagi dan mengatur pengetahuan diantara besarnya pengaruh budaya barat yang mulai tidak asing lagi,
good luck all...!!!

sedikit tentang tokoh wayang...:
SRI RAMA
Disebut juga ramawijaya , Raghawa, Ramabhadra atau Bathara Rama. Berasal dari Kerajaan Ayodya, putra dari Prabu (Raja) Dasarata dan Dewi Raghu, cucu dari Prabu Banaputra. Pada masa kecil dan remaja dididik tentang keutamaan dan kesaktian oleh Bagawan Wasistha. Karena kepandaian, kesaktian dan kehalusan budinya, Sri Rama mendapat anugrah sebagai titisan Sang Hyang Wisnu yang bertugas memusnahkan angkara murka di muka bumi. Sri Rama beristerikan Dewi Shinta, setelah memenangkan sayembara menarik Busur Pusaka Kerajaan Mantili (Mithiladiraja). Sri Rama memiliki anak yaitu Kusiya, dan Rama Batlawa.


DEWI SHINTA


Sering juga disebut sebagai Sintadewi, Rakyan Sinta, Janaki, atau Maithali. Putri dari Mantili ini berayahkan Prabu Janaka. Merupakan titisan dari bidadari kayangan Dewi Sri Widowati. Menjadi permasuri Sri Rama, raja Ayodya. Memiliki sifat setia dan berbakti kepada suami. Hal ini dibuktikan ketika Dewi Shinta diculik oleh Rahwana, dia dapat mempertahankan kesuciannya. Pada saat kesuciannya diuji oleh Sri Rama dengan cara dibakar, Shinta dapat selamat dari kobaran api.



DASAMUKA


Disebut juga Rahwana, Rawana, Dasawadana, Dasanana, Dasawaktra, Dasasirsa, Wingsatibahu, Dasasya.
Bermukim di Alengka (Ngalengkadiraja). Merupakan putra dari Bagawan Wiswara dan Dewi Sukesi. Dasamuka menjadi Raja di Alengka menggantikan sang kakek bernama Prabu Sumali. Memiliki Patih (Perdana Menteri) bernama Prahastha. Berpermaisurikan Dewi Tari, dan memiliki putra mahkota bernama Indrajit(Megananda).
Anak-anaknya yang lain diantaranya : Trisirah, Trikaya, Trinetra, Dewantaka, Dewatumut, Pratalamaryam.
Dasamuka memiliki ajian Pancasona yang membuatnya dapat hidup kembali bila menyentuh tanah setiap kali musuh mengalahkannya. Dasamuka memilik sifat angkara, senang menganiaya, tidak mau kalah, dan semua keinginannya harus terlaksana. Dalam hidupnya Dasamuka memiliki obsesi untuk mempersunting Titisan dari Dewi Sri Widowati, yang antara lain menitis pada Dewi Shinta.

PRABU JANAKA

Prabu Janaka merupakan raja Kerajaan Mantili.
Putra dari Prabu Danupati dan cucu dari Prabu Danuja.
Memiliki putri Dewi Shinta. Menurut cerita, Prabu Janaka mendapatkan putri Dewi Shinta ketika sedang melakukan samadi. Shinta kecil (bayi) didapatkannya sedang hanyut di sungai pada suatu wadah. Sang bayi kemudian diangkatnya sebagai anak.






DURSASANA

Disebut juga Dussasana, bermukim di Kesatrian Banjarjumput. Merupakan anggota keluarga Kurawa, adik dari Prabu Duryudana. Memiliki sifat yang kurang terpuji, seperti sombong, tidak berpikir panjang, rakus, dan tidak bertanggungjawab. Pada masa kecilnya dididik oleh Durna bersama anggota Kurawa yang lain. Pada perang Bharatayudha,
Dursasana mati di tangan Bimasena (Werkudara), dan darahnya diambil untuk diberikan kepada Drupadi untuk menggenapi sumpah Drupadi.
Drupadi yang pernah diperlakukan tidak senonoh oleh Dursasana bersumpah untuk tidak mengikat rambutnya sebelum membasuh rambutnya dengan darah Dursasana.


ASWATAMA

Merupakan putra kesayangan seorang Pendeta terkenal bernama Pendeta Durna dari ibu bernama Dewi Wilutama,
bidadari kayangan yang saat itu berwujud kuda terbang. Aswatama lahir ke dunia setelah Durna (saat itu bernama Bambang Kumbayana)
melakukan perjalanan dari Negeri Atasangin menuju Pancala dengan menaiki Kuda Terbang.
Aswatama ini menjadi teman keluarga Kurawa setelah sang ayah menjadi Pendeta di Padepokan Sokalima sebagai guru Keluarga Kurawa.



PETRUK
Disebut juga Kanthongbolong, Surogendilo, Dawala, Jeglongjaya, atau Ronggongjiwan.
tinggal di Pecukpeculikan. Termasuk Keluarga Punakawan,
anak dari Ki Lurah Semar, adik dari Nala Gareng. Memiliki pusaka bernama Klithing (lonceng) Wasiat. Memiliki sifat setia, suka prihatin, rajin, humoris, tangkas, dan bijaksana. (saya suka ketika salah satu tokoh ini, mulut dalang yang ngaco dan pasti ada ada aja)




UTARA


Memiliki julukan Bhuminjaya,
berasal dari Kerajaan Wiratha.
Putra dari Prabu Matswapati dan Dewi Rekathawati.
Bersaudarakan Wratsangka, Raden Seta, Satanika dan Dewi Utari
Dalam Perang Bharatayudha Raden Utara ini gugur dalam pertempuran yang tidak seimbang melawan Prabu Salya.


***************

thks to :
www.geocities.com/wayangpurwa
www.geocities.com/Athens/Delphi/7409/


Comments

  1. Trims de dikau mengangkat kembali budaya masyarakat asli kita yang dah mulai tergeser, teruskan berkarya dan menulis..

    ReplyDelete

Post a Comment

TERIMAKASIH KOMENTAR ANDA

@FISENA_HARD ON TWITTER
FISENA_HARD ON INSTAGRAM