Realitas Masyarakat Desa dan Kota serta Hubungannya
Masyarakat bisa didefinisikan sebagai kelompok orang yang terorganisasi
karena memiliki tujuan bersama. Masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang
saling bergaul atau saling berinteraksi secara tetap memiliki kepentingan yang
sama. Masyarakat terbentuk karena manusia menggunakan pikiran, perasaan, dan
keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya. Hal itu menjadikan
banyak hal yang terjadi dalam lingkungan masyarakat, banyak terjadi
fenomena-fenomena atau budaya dalam lingkungan masyarakat, kali ini saya akan
menuliskan tentang fenomena yang terjadi pada masyarakat desa dan kota.
Melihat fenomena yang ada, dapat kita lihat di media atau realita
secara langsung, fenomena pertumbuhan atau kehidupan masyarakat dan desa sudah lah mengalami pergeseran nilai
yang signifikan, antara saaat ini atau sepuluh tahun yang lalu atau berapa
puluh tahun yang lalu, fenomena-fenomena ini timbul karena ada eksplorasi
globalisasi msyarakat desa, yang terpengaruh dengan budaya kota, hal ini mereka
dapat dari proses urbanisasi atau media yang mereka konsumsi sehari-hari,
perkembangan komunikasi digital yang cukup pesat di perkotaan pun menular ke
pedesaan walau akses atau fasilitas komunikasi di pedesaan tidak secanggih dan
selengkap di perkotaan, itu terbukti dan dapat mudah kita jumpai melalui
jejaring sosial misalnya, sudah banyak pengguna jejaring sosial, baik facebook,
twitter atau yang lain nya itu berasal dari pedesaan, kita sudah tidak dapat
membedakan orang yang dari kota atau pedesaan.
Dengan perkembangan tersebut, memiliki dampak positif dan negative,
berikut beberapa contoh dampak postitif dan negatif dan perkembangan
globalisasi diruang lingkupo masyarakt pedesaan.
- Dampak positif
Peningkatan dalam bidang sistem
teknologi, mempermudah dalam distribusi ekonomi dan komunikasi, serta
perkembanganan ilmu pengetahuan dan informasi.
- Dampak negative
Menimbulkan perubahan gaya hidup
yang mengarah ke masyarakat konsumtif komersial, masyarakat akan minder
jika tidak menggunakan pakaian yang ber-merk contohnya, terjadi kesenjangan
sosial dan budaya, menjadi arena persaingan sosial yang mengakibatkan kumpulan
atau organisasi baru yang berdasarkan kelas ekonomi, cenderung yang mempunyai ekonomi
yang rendah akan jauh dari dari masyarakt yang memiliki ekonomi lebih tinggi.
Hal itu akan menjadi di kotak-kotakan nya golongan tersebut, meninggalkan
budaya kebersamaan dalam masyarakt desa.
Selain itu juga sebagai imperialisme, proses globalisasi membawa serta
budaya barat, serta kecenderungan melecehkan dan meninggalkan budaya
traditional.
Dilihat dari berbagai aspek, perkembangan globalisasi yang
menyebabkan pergeseran dalam masyarakat pedesaan tersebut memiliki banyak
dampak positif dan negatif, semuanya berimbang namun sampai sekarang pun masih
menjadi problema tersendiri di Negara ini. Bagaimana atau kemana kita akan
memilih melawan arus globalisasi, menjadi masyarakat yang kuno seperti dulu
atau berkembang maju lalu meninggalkan kebudayaan tradisional yang menjadi
harta karun yang kita miliki, gotong royong misalnya, budaya yang melekat dan
identic dengan masyarakat ini pun harus berangsur punah karena tergerus oleh
gaya hidup yang mereka dapat dari kota.
Semua kembali dan bergantung dengan persepsi masing-masing,
meliaht semua fenomena yang ada kita membutuh kan jalan keluar, atau
membutuhkan sebuah komitmen untuk menuju masa depan, pertanyaan bertahan atau melawan seharus nya segera
terjawab, demi kelangsungan hidup yang lebih baik, serta kelancaran dalam
perkembangan masyarakat. Seharusnya dari sekarang kita sudah memiliki tujuan
kita harus kemana atau bagaimana, kita memang sulit bahkan tidak mungkin untuk
melawan perkembangan globalisasi, karena kemudian harus kita akui bahwa kita
juga membutuhkan itu. Sebagai perkembangan pengetahuan, pendidikan, dan
informasi. Kita tidak mungkin terpenjara dalam ruang lingkup yang kuper, dengan
hal yang monoton dan itu itu saja. Dan saya pikir masyarakt desa juga butuh
mengeksplorasi daya kreatifitas mereka, melalui globalisasi mereka dapat
menyalurkan konsep, ide kreatif, atau mengenalkan budaya mereka.
Atau
juga dengan adanya perkembangan globalisasi, masyarakat pedesaan juga dapat
mempermudah komunikasi mereka, mereka tidak perlu jalan kaki atau berkirim
surat untuk menyampaikan informasi, dengan ada nya teknologi yang baru saat
ini, mreka dapat berkatifitas komunikasi lebih mudah.
Disisi lain, masyarakt desa juga harus memiliki komitmen
bahwa, mereka harus menanamkan nilai nilai kebudayaan yang mereka miliki,
memepertahankan culture yang selama
ini menjadi kekayaan tersendiri, mereka boleh mengikuti perkembangan
globalisasi, tapi mereka harus kuat dan mempertahan kebudayaan mereka.
Hubungan Desa-kota,
hubungan pedesaan-perkotaan.
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas
yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar
diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena
diantara mereka saling membutuhkan. Desa merupakan sumber tenaga kerja kasar
untuk berbagai jenis pekerjaan, desa juga menjadi suplai beberapa macam makanan
pokok berupa hasil perkebunan atau peternakan, begitu juga dengan kota, menurut
penduduk desa, kota adalah sumber dari kehidupan atau penghasilan, beberapa
hasil tanaman mereka, kreatifitas budaya, peternakan atau jasa mereka dapat di
gunakan di kota, mereka akan mendapatkan hasil dari sana.
Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan
menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin
berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan. Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui
beberapa caar, seperti:
- Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam;
- Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan;
- Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi;
- Ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.
Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :
a). Urbanisasi dan Urbanisme
Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota yang saling ketergantungan
dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi
yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula
dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan.
(soekanto,1969:123 ).
Contohnya : Bertambahnya
penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian, Terdesaknya
kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern, Didesa tidak banyak
kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan, berbagai alasan masyarakat yang
merasa tidak mampu mencari penghasilan di desa, Sehingga memaksa penduduk desa
untuk mencari penghidupan lain dikota.
b) Sebab-sebab Urbanisasi
Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah
kediamannya (Push factors), Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk
desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)
Contohnya : Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota banyak
pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan, Dikota lebih banyak
kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri
kerajinan, Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan
lebih mudah didapat, Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih
tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya, Kota
memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau
untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125
).
Urbanisasi
tersebut kemudian menghasilkan budaya-budaya baru di Indonesia ini, contohnya
Mudik. Mudik menjadi kata-kata yang ditunggu selama bulan Ramadhan karena mudik
adalah tradisi pulang ke desa untuk sementara waktu dan membawa simbol-simbol
tersendiri bagi para pemudik. Selain sarat akan ranah sosial dan religius,
mudik identik dengan fenomena ekonomi. Maksudnya selain berkumpul dengan
keluarga, ada bentuk pamer status yang dalam hal ini bersifat ekonomi. Mudik
adalah taruhan keberhasilan pemudik. Akan ada rasa malu bagi pemudik yang
pulang dengan tangan kosong. Maka kita lihat banyak pemudik yang tidak sengaja
memoles dirinya dengan simbol peningkatan status ekonomi. Namun penonjolan
status tersebut memberi dampak lanjutan bagi penduduk desa lainnya bahwa kota
adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Melihat banyaknya penduduk desa
yang mudik menunjukkan kesenjangan sosial antara desa dan kota. Pembangunan
yang lebih dititikberatkan pada kota menimbulkan anggapan bahwa kota adalah
lambang kemakmuran dan desa sebagai simbol keterbelakangan. Kota kemudian menjadi
sumber pemikat bagi penduduk desa yang menjadikan kemapanan ekonomi. Hal inilah
yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi. Urbanisasi mengakibatkan
ketidakmerataan penduduk di desa maupun kota dan hal ini pada awalnya
disebabkan oleh tidak meratanya pembangunan antara desa maupun kota. Karena
kemudian penduduk yang desa yang tinggal di kota pulang kedesa lalu kembali
kekota membawa beberapa penduduk desa lainya untuk bekerja atau mencari kerja
di kota.
Bagaimanapun, mudik merupakan fenomena sosial yang hanya ada di
Indonesia. Coba lihat aja di negara lain tidak ada yang namanya mudik. Memang
mereka juga punya Ramadhan, tapi Ramadhan mereka tidak diwarnai dengan mudik,
Dibilang membanggakantidak, Dibilang memalukan juga tidak, justru menjadi ciri
khas tersendiri dari Indonesia, lalu bagaimana mengantisipasi semua itu dari
dampak negative di kota atau di desa?
Kemudian semua fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat ini
menjadi “PR” bersama antara pemerintah dan kesadaran masyarakat itu sendiri,
tidak mungkin membebankan kepada pemerintah yang mempunyai banyak tugas dan
tanggung jawab, karena masyarakat juga seharus nya menyadari apa yang mereka
lakukan dan memahami apa yang seharusnya mereka perlu lakukan. Menjadi
masyarakat yang peduli atau masyarakat yang tidak perduli sebenar nya bukan
pilihan, sudah semestinya masyarakat harus peduli kepada lingkungan nya, dan
peduli dengan sosialnya, marilah menjadi masyarakat yang peduli dan berbudaya,
terima kasih.
Comments
Post a Comment
TERIMAKASIH KOMENTAR ANDA
@FISENA_HARD ON TWITTER
FISENA_HARD ON INSTAGRAM